Ada banyak aliran Karate di Jepang, dan sebagian dari aliran-aliran tersebut sudah masuk ke Indonesia.
Adapun ciri khas dan latar belakang dari berbagai aliran Karate yang termasuk dalam “4 besar JKF (Japan Karate Federation) ” adalah sebagai berikut:
1. Shotokan
Shoto adalah nama pena Gichin Funakoshi (Shoto=’Pine-waves’)
Kan dapat diartikan sebagai gedung/bangunan – sehingga shotokan dapat diterjemahkan sebagai Perguruan Funakoshi.
Gichin Funakoshi merupakan pelopor yang membawa ilmu karate dari Okinawa ke Jepang. Aliran Shotokan merupakan akumulasi dan standardisasi dari berbagai perguruan karate di Okinawa yang pernah dipelajari oleh Funakoshi. Berpegang pada konsep Ichigeki Hissatsu, yaitu satu gerakan dapat membunuh lawan. Shotokan menggunakan kuda-kuda yang rendah serta pukulan dan tangkisan yang keras. Gerakan Shotokan cenderung linear/frontal, sehingga praktisi Shotokan berani langsung beradu pukulan dan tangkisan dengan lawan.
Tambahan :
Shotokan memang berasal dr Funakoshi sensei setelah dia pindah ke Jepang. Namun yg dia bawa/pelajari tidak mewakili apa yg ada di Okinawa, hanya sebagian saja. Karena dia hanya belajar pada Okinawan Master di daerah Shuri-Tomari.
Dan setelah di bawa ke Jepang, byk teknik yg dikebiri agar tidak kontra dng beladiri yg sudah ada seperti sumo, jujutsu, nippon kenpo. Setelah Funakoshi wafat, terdapat clash antara murid dia kubu Nakayama (yg memboikot acara perabuan Funakoshi) & kubu Egami. Nakayama meneruskan JKA (dikenal sbg Shotokan) dan Egami meneruskan Shotokai.
Shotokan terdapat 26 Kata (rejecting Taikyoku (ada 3 seri) & Ten no Kata (ada 2 seri))
Shotokai mempertahankan 15 Kata yg memang diajarkan oleh Funakoshi (tidak menambahkan Kata baru)
2. Goju-ryu
Goju memiliki arti keras-lembut. Aliran ini memadukan teknik keras dan teknik lembut, dan merupakan salah satu perguruan karate tradisional di Okinawa yang memiliki sejarah yang panjang. Dengan meningkatnya popularitas Karate di Jepang (setelah masuknya Shotokan ke Jepang), aliran Goju ini dibawa ke Jepang oleh Chojun Miyagi. Miyagi memperbarui banyak teknik-teknik aliran ini menjadi aliran Goju-ryu yang sekarang, sehingga banyak orang yang menganggap Chojun Miyagi sebagai pendiri Goju-ryu. Berpegang pada konsep bahwa “dalam pertarungan yang sesungguhnya, kita harus bisa menerima dan membalas pukulan”. Sehinga Goju-ryu menekankan pada latihan SANCHIN atau pernapasan dasar, agar para praktisinya dapat memberikan pukulan yang dahsyat dan menerima pukulan dari lawan tanpa terluka. Goju-ryu menggunakan tangkisan yang bersifat circular serta senang melakukan pertarungan jarak rapat.
Tambahan :
Goju-ryu, nama ini disematkan pada kelompok latihan yg dipimpin oleh Miyagi Chojun setelah dia mendapat kabar dr murid2nya setelah mengikuti Festival karena ditanya dari aliran apa. Miyagi sensei menggunakan nama Goju berdasarkan pemahaman yg terdapat pada Bubishi dalam bab Kenpo Hakku mengenai teknik Keras & Lembut. Makanya nama Goju disematkan untuk kelompok dia. Mengenai SanChin, sanchin bukan pernapasan dasar, namun SanChin adalah tiga pertempuran untuk menuju sinkronisasi antara body, mind & spirit. Goju-ryu yg terdapat di Okinawa, berbeda dengan Goju-ryu yg terdapat di Jepang (Yamaguchi-ha).
3. Shito-ryu
Aliran Shito-ryu terkenal dengan keahlian bermain KATA, terbukti dari banyaknya KATA yang diajarkan di aliran Shito-ryu, yaitu ada 30 sampai 40 KATA, lebih banyak dari aliran lain. Namun yang tercatat di soke/di Jepang ada 111 kata beserta bunkainya. Sebagai perbandingan, Shotokan memiliki 25, Wado memiliki 17, Goju memiliki 12 KATA. Dalam pertarungan, ahli Karate Shito-ryu dapat menyesuaikan diri dengan kondisi, mereka bisa bertarung seperti Shotokan secara frontal, maupun dengan jarak rapat seperti Goju.
Tambahan :
Shito-ryu bukan dikenal sbg ahli memainkan kata (mentang2 kata yg ada di syllabus nya byk?). Namun, karena Mabuni sensei belajar dr 2 Okinawan Master: Higaonna Kanryo & Itosu Anko. Nama shito adalah gabungan dr nama kedua master itu. Dan mengapa kata dalam kelompok Shito itu byk? Karena Shito-ryu adalah kumpulnya dr bbrp praktisi seangkatan dr Mabuni, dan mendaftarkan kata2 apa aja yg mereka pelajari. Maka terkumpullah kata tersebut hingga ada byk.
4. Wado-ryu
Wado-ryu adalah aliran Karate yang unik karena berakar pada seni beladiri Shindo Yoshin-ryu Jujutsu, sebuah aliran beladiri Jepang yang memiliki teknik kuncian persendian dan lemparan. Sehingga Wado-ryu selain mengajarkan teknik Karate juga mengajarkan teknik kuncian persendian dan lemparan/bantingan Jujutsu. DIdalam pertarungan, ahli Wado-ryu menggunakan prinsip Jujutsu yaitu tidak mau mengadu tenaga secara frontal, lebih banyak menggunakan tangkisan yang bersifat mengalir (bukan tangkisan keras), dan terkadang menggunakan teknik Jujutsu seperti bantingan dan sapuan kaki untuk menjatuhkan lawan. Akan tetapi, dalam pertandingan FORKI dan JKF, para praktisi Wado-ryu juga mampu menyesuaikan diri dengan peraturan yang ada dan bertanding tanpa menggunakan jurus-jurus Jujutsu tersebut.
Tambahan :
Wado-ryu adalah gabungan antara Shotokan (jaman Funakoshi angkatan awal) dengan shindo yoshin-ryu jujutsu. Seperti halnya pada kelompok latihan dari Ryobukai. Cman Ryobukai tidak influenced by jujutsu. Slaen blajar sama Funakoshi, Otsuka juga belajar sama Motobu & Miyagi, maka terdapat bbrp kata yg juga dipakai oleh Shito dan Goju.
Sedangkan aliran Karate lain yang besar walaupun tidak termasuk dalam “4 besar JKF” antara lain adalah:
1. Kyokushin
Kyokushin tidak termasuk dalam 4 besar Japan Karatedo Federation. Akan tetapi, aliran ini sangat terkenal baik didalam maupun diluar Jepang, serta turut berjasa mempopulerkan Karate di seluruh dunia, terutama pada tahun 1970an. Aliran ini didirikan oleh Sosai Masutatsu Oyama. Nama Kyokushin mempunyai arti kebenaran tertinggi. Aliran ini menganut sistem Budo Karate, dimana praktisi-praktisinya dituntut untuk berani melakukan full-contact kumite, yakni tanpa pelindung, untuk mendalami arti yang sebenarnya dari seni bela diri karate serta melatih jiwa/semangat keprajuritan (budo). Aliran ini juga menerapkan hyakunin kumite (kumite 100 orang) sebagai ujian tertinggi, dimana karateka diuji melakukan 100 kumite berturut-turut tanpa kalah. Sosai Oyama sendiri telah melakukan kumite 300 orang. Adalah umum bagi praktisi aliran ini untuk melakukan 5-10 kumite berturut-turut.
Tambahan :
Kyokushin, didirikan oleh Oyama setelah dia belajar Shotokan karate pada Funakoshi sensei & belajar Goju-ryu pada So Nei Chu sensei & Yamaguchi sensei. Setelah dia berlatih 2 tahun di gunung, dia kembali ke kota dan mencoba kemampuannya kepada bbrp praktisi. Yg akhirnya dia mendirikan kelompok latihan yg bernama Oyama Dojo, kemudian beralih nama menjadi Kyokushin.
2. Shorin-ryu
Aliran ini adalah aliran Karate yang asli berasal dari Okinawa. Didirikan oleh Shoshin Nagamine yang didasarkan pada ajaran Yasutsune Anko Itosu, seorang guru Karate abad ke 19 yang juga adalah guru dari Gichin Funakoshi, pendiri Shotokan Karate. Dapat dimaklumi bahwa gerakan Shorin-ryu banyak persamaannya dengan Shotokan. Perbedaan yang mencolok adalah bahwa Shorin-ryu juga mengajarkan bermacam-macam senjata, seperti Nunchaku, Kama dan Rokushaku Bo.
Tambahan :
Shorin-ryu, bermakna hutan pinus. berasal dari daerah Shuri & Tomari. Pelopornya adalah Matsumura Sokon sensei. Itosu sensei hanya sbg penerusnya. Karakternya adalah serangan yg lurus cepat dan dng tangkisan yg memotong. Walopun Shorin ryu adalah Eyang perguruan yg dianut shotokan, namun pada Shotokan sudah byk terdapat perbedaan yg mencolok.
3. Uechi-ryu
Aliran ini adalah aliran Karate yang paling banyak menerima pengaruh dari beladiri China, karena pencipta aliran ini, Kanbun Uechi, belajar beladiri langsung di provinsi Fujian di China. Oleh karena itu, gerakan dari aliran Uechi-ryu Karate sangat mirip dengan Kungfu aliran Fujian, terutama aliran Baihequan (Bangau Putih).
Tambahan :
Uechi-ryu, kelompok latihan ini dipelopori oleh Uechi Kanbun sensei yg belajar sama Sushiwa. Dan dia meneruskan belajar Pangainoon (Hunggar) di china. Dan merupakan kungfu Tiger-Crane. Fokusnya terdapat pada teknik piercing, slashing, thrusting & iron body. Seperti pada Goju dng menerima serangan menggunakan teknik sirkular, namun rythm yg digunakan sedikit berbeda (Goju influence dr Bai He; White Crane)
(dirangkum dari berbagai sumber )
Kamis, 10 Maret 2011
Minggu, 16 Januari 2011
GHASUKU NASIONAL IKO KYOKUSHINKAIKAN (ALL JAPAN KYOKUSHIN UNION)
Ghasuku Nasional IKO Kyokushinkaikan Indonesia ( All Japan Union Kyokushin) tahun ini insya allah akan di adakan tanggal 22-23 Januari 2011 di Penginapan Yayasan Putra Bahagia, Jl Jeprah Rt 03/02 Cimacan, Kabupaten Cianjur Jawa Barat.
Osu,
Osu,
Sabtu, 15 Januari 2011
Perjalanan serta sejarah singkat Kyokushin Union dan Shihan Ms Dadang Ub
Lahir pada tanggal 9 Agustus 1956 di Kota Intan Garut Jawa Barat, dari pasangan Ayah Bachrudin (Almmarhum) seorang anggota militer pada kesatuan RPK-AD (Sekarang Kopassus) dengan Ibu Umayah (Almarhumah). Dilahirkan sebagai anak ke tiga dari sembilan bersaudara.Tumbuh dan berkembang dalam lingkungan Komplek Militer, sejak setelah dilahirkan tinggal di Komplek Militer di Batujajar Bandung, dan pada tahun 1958 pindah ke Komplek RPK-AD Cijantung Jakarta Timur mengikuti orang tua, sehingga sangat kental dan terbiasa dengan suasana yang penuh disiplin.
Tahun 1995, Mengikuti Kejuaraan Dunia Karate Terbuka ke 6 di Tokyo, Jepang.
Menikah pada tahun 1981 dengan Tia Hertiawati, gadis Jakarta yang dikenalnya sejak duduk di bangku SMP. Dikaruniai empat orang anak, dua putra dan dua putri, 1. Lucky MFZ, 2. Oky MFZ, 3. S.Sarah Fariha, 4. S.Soraya Fauzia
Sejak kecil sudah gemar ber-olahraga dan seni, terutama seni beladiri. Saat itu beladiri yang dipelajari adalah Silat Tradisional. Latihan dilakukan pada malam hari dengan jadwal tiga kali dalam seminggu. Guru yang memberikan latihan berasal dari Jawa Tengah yang sudah lama tinggal di Jakarta bernama Pak Bewok (Almarhum) seorang PNS di Kesatuan RPK-AD Cijantung.
Pada tahun 1967 mulai mengenal beladiri Karate dari orang tua. Setelah mendapat pelajaran dasar-dasar Karate, mulai tertarik untuk mendalami beladiri tangan kosong ini, terlebih setelah mempelajari Karate aliran Kyokushin dari buku Mas Oyama pendiri Karate aliran Kyokushin, akhirnya pada tahun 1969 secara resmi mengikuti latihan Karate aliran Shotokan.
Kakak seperguruan/Senpai Boy Crayn (Alm) dan Senpai Yohannes Souisa membuat termotivasi untuk terus berlatih, juga Sensei Baud (Alm) yang pertama kali membawa Karate ke Indonesia, Sensei Anton Lesiangi, Sensei Sabet Mukhsin, adalah merupakan figure/tokoh Karate yang menjadi idola.
Hari-hari latihan nyaris tidak pernah terlewatkan, tidak hanya di dojo, dirumahpun latihan selalu dilakukan, bahkan kerap mendatangi dojo lain untuk mengikuti latihan dengan tidak melihat perguruan atau aliran, semua dilakukan dengan serius, disiplin dan semangat yang tinggi, itu tidak terlepas karena didikan orang tua yang selalu menekankan kepada Kejujuran, Disiplin, Hormat, Kerjakeras, Pantang menyerah,Bertanggung jawab, serta selalu ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya.
Setelah beberapa tahun latihan, untuk pertama kalinya membuka dojo di wilayah Pulo Mas Jakarta Timur pada tahun 1972, dan membantu melatih di salah satu Dojo di Rawamangun Jakarta Timur, namun itu tidak lama. Sejak tahun 1972 kegiatanpun semakin padat dengan menjadi Tim Sepak Bola Patra Yunior (Club Pertamina), Bola Volly dan Balap Motor. Ditengah-tengah padatnya kegiatan masih dapat menyisihkan waktu untuk berlatih silat dari seorang Guru Silat tradisional Betawi yang akrab dipanggil Kong Bewok (Almarhum). Pelatihan silat pun didapat dari Mang Eman (Paman) di Garut ketika saat libur sekolah.
Sekitar tahun 1976/1977 saat menjadi seorang Mahasiswa di Universitas Islam Nusantara (UNINUS) Koordinator Bandung di Garut, Seorang sahabat Idrus Affandi (sekarang sudah menjadi seorang Profesor di Bandung) pelatih perguruan Karate BKC dari Garut, menawarkan untuk mengikuti latihan dan membantu melatih di Garut karena kesibukannya kuliah di Bandung, yang kebetulan Assisten pelatihnya Jaki masih ada hubungan keluarga . Tidak lama kegiatan berjalan, terpaksa harus meninggalkan Kota Garut untuk kembali ke Jakarta, Kohai (Adik seperguruan) Ade Robby ketika sama-sama mengikuti latihan di Cijantung, menawarkan untuk bergabung di perguruan Karate aliran Goju Ryu. Atas tawaran tersebut, maka dipertemukan dengan Pelatih Sensei Sucipto Hermawan dan Senpai M.Muslim sebagai Assistennya, akhirnya sejak tahun 1978 mulai aktif di perguruan Karate aliran Goju Ryu. Banyak pelajaran yang didapat dalam latihan yang memang sedikit banyak terdapat perbedaan dengan aliran Shotokan yang selama ini dipelajari.
Pada kesempatan yang tidak terlalu lama namun padat, mendapat pelatihan dari seorang pelatih aliran Goju-Ryu di Jepang Sensei Shibasaka yang kebetulan sedang mendapat tugas ke Indonesia dan tinggal di Jakarta, Sejak itu mulai mengembangkan Karate aliran Goju Ryu dan berhasil membuka beberapa dojo di daerah DKI Jakarta. Kegiatan melatih semakin padat, hampir setiap hari waktu terisi untuk melatih Karate. Semua itu dilakukan dengan sungguh-sunggug, tanggung jawab, ikhlas dan tanpa pamrih.
Arah kebijakan perguruan telah berubah, yang mana pada sekitar tahun 1981 bergabung dengan perguruan Karate aliran Kyokushin yang berpusat di Semarang dibawah pimpinan Sensei JB Sujoto. Penyesuaian tehnik dasar, Kata dan Kumite tanpa banyak kesulitan, karena teknik dasar Goju-Ryu tidak jauh berbeda dengan Kyokushin, bahkan hampir seluruh Kata Kyokushin berasal dari Goju-Ryu dan Shotokan. Sejak itulah mulai memantapkan dan berkonsentrasi penuh pada Kyokushin.
Karate aliran Kyokushin pertama kali dibawa ke Indonesia dan dikembangkan oleh Shihan Nardi T Nirwanto sekitar tahun 1968. Namun sangat disayangkan sampai saat ini belum ada kesempatan untuk bertemu secara khusus, hanya ketika disaat mengikuti Kongres FORKI di Ciawi Bogor pada tahun 1996, itupun hanya beberapa saat. Semoga Tuhan akan mempertemukannya.Tahun 1983, mengikuti latihan bersama yang dipimpin oleh Shihan Peter Chong (Ketua Kyokushin Asia ketika itu) yang dihadiri Sosai Mas Oyama di Cibubur, Jakarta Timur. Di tahun yang sama, beberapa Dojo telah berhasil dibuka di wilayah Bekasi dan Bandung. Kyokushin di Bekasi mendapat dukungan dan perhatian khusus dari Bapak Wawan Riswandi dan Bapak Drs Damanhuri Husein salah seorang pejabat Pemerintah Daerah di Kabupaten Bekasi, sehingga perkembangan Kyokushin di Kabupaten Bekasi begitu pesat.
Kepercayaan pun diberikan dari rekan-rekan perguruan Karate di Bekasi untuk memimpin FORKI Kabupaten Bekasi bersama Bapak Drs Damanhuri Husein. Seorang Pelatih dari perguruan INKAI Sempai Bambang Sadiman menjadi partner dalam melatih atlet-atlet FORKI Kabupaten Bekasi dan beberapa pelatih lain, diantaranya, Senpai Syafri Kaliluddin, Senpai Franky Parengkuan, Senpai Yulius Sayuti, Senpai Marsudi . Beberapa atlet yang telah berhasil meraih prestasi dan menjadi atlet nasional diantaranya, Endah Jubaedah, Iin Hasanah, Neng Yulianti, Ribkah Angelia Tareja, Iwan Taher, Rizky Syahbana . Dan dari perjalanannya di FORKI Kabupaten Bekasi, menjadikannya sebagai pengurus FORKI Jawa Barat.
Tanggal 10 April 1991, diangkat menjadi Branch Chief untuk Indonesia oleh International Karate Organization Honbu Kyokushin Syogakukai Kyokushinkaikan, dengan sertifikat nomor 40606.
Tahun 1991, Mengikuti Kejuaraan Dunia ke 5 di Tokyo, Jepang, dan menyempatkan berkunjung ke Honbu (Markas Besar) di Ikebukuro.
Tahun 1992, Mengikutsertakan atlet dalam Kejuaraan Karate Full Contact Terbuka se Asia ke 5 di Colombo, Srilanka. Di tahun yang sama, mengikuti Kejuaraan Internasional Karate Singapore Terbuka, di Singapore.
Tahun 1994, Mengikuti Kejuaraan Karate Full Contact Terbuka se Asia ke 6 di Kathmandu, Nepal.
26 April 1994, Berduka, Sosai Masutatsu Oyama Pendiri Karate Kyokushin, Wafat. Setelah wafatnya Sosai Mas Oyama, International Karate Organization Kyokushinkaikan telah terpecah menjadi beberapa kubu, sehingga berdampak terhadap iklim pembinaan dan perkembangan Kyokushin di seluruh dunia.
Tahun 1994, mendapat penghargaan Pelatih Terbaik dari Pemerintah.Tahun 1995, Mengikuti Kejuaraan Dunia Karate Terbuka ke 6 di Tokyo, Jepang.
Tahun 1999, bertepatan dengan HUT Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Jadi Kabupaten Bekasi, mendapat penghargaan sebagai Pembina Olahraga Terbaik dari Pemerintah Daerah Kabupaten Bekasi, dan di tahun 2000 pada acara HAORNAS (Hari Olahraga Nasional) mendapat penghargaan sebagai Pelatih Terbaik.
Tahun 2001 adalah merupakan masa yang sulit, dimana dengan berat hati harus berpisah dalam organisasi dengan sahabat dan orang yang sangat dihormati dan dijadikan panutan, hal itu karena situasi dan kondisi yang menghendaki.
Hampir setiap malam merenung dan meminta kepada Tuhan YME untuk mendapatkan petunjuk dan bimbingan agar setiap langkah selalu di jalan-Nya. Setelah melalui berbagai pertimbangan, maka pada tanggal 9 Agustus 2001 didirikan International Karate Organization (IKO) Kyokushin-Kaikan Indonesia Rekan-rekan dari beberapa daerah memberikan dukungan dan perhatian atas berdirinya IKO Kyokushin-Kaikan Indonesia, diantaranya dari Jawa Tengah Bapak Drs Edianto Sudarmono, SE,MM,MBA, Bapak Agus Nurcahyo, SH (Alm), dari Jawa Barat Bapak Drs Damanhuri Husein, Senpai Yanto PH,S.Pd, Senpai Ir Priyanto M Joyosukarto, M.Eng, Senpai I Made Andri Wijaya, SE dan masih banyak lagi yang lainnya, dari DKI Jakarta Senpai Dhani Iskandar, SE, Senpai Inin Pradara, Senpai Asep Suryana S, Senpai Yulius Palulungan, dari Kalimantan Selatan Sensei Marwan Sikumbang, kemudian Senpai Marudut Tampubolon, SH,MH, MM, Senpai Desmasa Wijaya (Aping), dari Kalimantan Timur Senpai Liangto, SH, dari Jawa Timur Sensei Fredy Yulianto (Alm), Senpai Agus Prihanto, Senpai Nyoto Sudibyo, dari NTB Senpai M Munzir MS. Untuk menyusun program kegiatan perguruan, maka dilaksanakan Rapat Nasional yang diikuti oleh perwakilan daerah dan dihadiri Ketua Dewan Penasehat, Bapak Irjen Pol (Pur) Prof DR Koesparmono Irsan, SH,SIK,MH,MA
Atas kerjasama para pelatih, pengurus, dan simpatisan untuk bekerja bersama-sama dalam mengemban dan mengembangkan perguruan, IKO Kyokushin-Kaikan Indonesia menunjukkan perkembangan yang cukup baik, walaupun didalam perjalanannya masih terdapat kekurangan – kekurangan, bahkan hambatan dan cobaan baik dari internal maupun eksternal.
Perpecahan ditubuh Kyokushin Internasional semakin terlihat, suratpun berdatangan dari Luar Negeri menawarkan/mengajak untuk bergabung, dan semua ditanggapi secara positif. Belum ada keputusan untuk bergabung kepada salah satu kubu. Setelah beberapa waktu yang cukup lama untuk mempelajari dan melihat perkembangan dunia internasional, maka memutuskan untuk mengadakan hubungan dengan All Japan Kyokushin Union, saat itu Direktur Jenderal Shihan Kazuyuki Hasegawa. Komunikasi pun terus berjalan.
April 2004, Atas dukungan dan bantuan baik moril maupun materil dari Bapak Drs. Edianto Sudarmono, SE, MM, dapat menghadiri undangan dari International Karate Organization Kyokushin-Kaikan (IKOK) All Japan Kyokushin Union di Hongkong untuk mengikuti test menjadi anggota resmi All Japan Kyokushin Union dan teknik Karate Kyokushin untuk penyesuaian tingkatan yang dipimpin oleh Shihan Shigeru Tabata (Dirjen IKOK All Japan Kyokushin Union yang baru) dan Shihan Yashuhiro Shichinohe (Sekjen IKOK All Japan Kyokushin Union). Disamping mengikuti test, juga mendapat latihan teknik Karate secara khusus dan perwasitan.
Setelah mengikuti berbagai test, maka dinyatakan Lulus dengan hasil sangat memuaskan, dan resmi diangkat sebagai satu-satunya Ketua (Chairman) dan Perwakilan Negara (Country Representatif) IKOK All Japan Kyokushin Union untuk Indonesia.
Ketika setelah kembali ke Tanah Air, seluruh pelatih/sabuk hitam diundang untuk mengikuti penyempurnaan teknik Karate Kyokushin selama tiga hari, yang kemudian kegiatan tersebut dijadikan kalender tetap tahunan perguruan yang disebut BBC (Black Belt Course).
Tahun 2007, Untuk pertama kalinya Direktur Jenderal IKOK All Japan Kyokushin Union Shihan Shigeru Tabata dan Sekretaris Jenderal, Shihan Yashuhiro Shichinohe datang ke Indonesia dalam rangka melihat secara dekat perkembangan Kyokushin Union di Indonesia. Selama di Indonesia para anggota sabuk hitam dari seluruh daerah mendapat latihan selama lima hari, dan dalam kesempatan itu pula sekitar 500 orang dari dojo-dojo yang berada di wilayah Jabodetabek mengikuti latihan di Cibubur
Januari 2008, Menguikuti Kejuaraan Dunia Karate Full Contact Terbuka di Okinawa Jepang. Atlet yang mewakili Kontingen Kyokushin Indonesia adalah, Ahmad Yani, Lucky MFZ, ST dan Rihen Ripelen. Indonesia masuk dalam 16 Besar Dunia atas nama Lucky MFZ, ST dari Bekasi, Jawa Barat.
Dalam kejuaraan dunia tersebut, mendapat tugas sebagai Dewan Pertimbangan yang terdiri dari 12 orang dari beberapa negara, sebelas diantaranya yaitu : Shihan Kazuyuki Hasegawa (Jepang), Shihan Daigo Oishi (Jepang), Shihan Yukio Okada (Jepang), Shihan Seiji Kanamura (USA), SWhihan Eddie Emin (Australia), Shihan Peter Von Rotz (Switzerland), Shihan Bas Van Stenis (South Africa), Shihan Jorge Buston (Panama), Roel Wildeboer (Netherland), Sensei Gheorghe Bradu (Romania), Sensei Soichi Tashiro (Hongkong). Hal ini adalah merupakan suatu kepercayaan dan penghargaan yang cukup besar dari IKOK All Japan Kyokushin Union.
Dalam kejuaraan dunia tersebut, mendapat tugas sebagai Dewan Pertimbangan yang terdiri dari 12 orang dari beberapa negara, sebelas diantaranya yaitu : Shihan Kazuyuki Hasegawa (Jepang), Shihan Daigo Oishi (Jepang), Shihan Yukio Okada (Jepang), Shihan Seiji Kanamura (USA), SWhihan Eddie Emin (Australia), Shihan Peter Von Rotz (Switzerland), Shihan Bas Van Stenis (South Africa), Shihan Jorge Buston (Panama), Roel Wildeboer (Netherland), Sensei Gheorghe Bradu (Romania), Sensei Soichi Tashiro (Hongkong). Hal ini adalah merupakan suatu kepercayaan dan penghargaan yang cukup besar dari IKOK All Japan Kyokushin Union.
Selama di Okinawa mendapat latihan teknik Karate Kyokushin dari Shihan Daigo Oishi (Ketua Lembaga Kenaikan Tingkat) di Dojo Pusat, dan mengikuti test/ujian kenaikan tingkat DAN VII (Nana Dan), serta mengikuti seminar dengan para peserta dari perwakilan Kyokushin seluruh dunia yang dipimpin oleh Shihan Shigeru Tabata (Direktur Jenderal IKOK All Japan Kyokushin Union)
Langganan:
Postingan (Atom)